Statistik penggunaan HRIS di Indonesia
Statistik penggunaan HRIS Perekrutan bisa jadi rumit, memakan waktu, dan membosankan, itulah sebabnya banyak organisasi mengandalkan teknologi untuk mengatur dan mengelola proses perekrutan. Sebagai contoh, beberapa perusahaan mungkin menggunakan ATS, atau sistem pelacakan pelamar, untuk secara khusus mengelola proses perekrutan dengan mengumpulkan lamaran, mengatur kandidat, dan mengelola komunikasi. Banyak organisasi mungkin juga menggunakan HRIS, atau sistem manajemen sumber daya manusia, yang biasanya mengelola berbagai fungsi SDM yang berbeda, mulai dari perekrutan dan orientasi hingga kompensasi dan manajemen kinerja.
Statistik penggunaan HRIS. Namun, berapa banyak organisasi yang benar-benar memanfaatkan teknologi ini untuk kebutuhan SDM dan perekrutan mereka? Awal tahun ini, kami mengadakan survei kepada para profesional perekrutan, dan salah satu pertanyaan yang kami ajukan adalah mengenai hal tersebut. Kami mengumpulkan hasilnya dalam Laporan Tolok Ukur Pengujian Pra-Kerja tahunan kedua kami, dan inilah yang kami pelajari tentang penggunaan teknologi di antara para pemberi kerja saat ini:

Menurut survei tersebut, 55% dari para profesional perekrutan saat ini menggunakan ATS atau HRIS untuk membantu proses perekrutan. Selain itu, 19% saat ini tidak menggunakan sistem apa pun, namun mempertimbangkan untuk menggunakannya di masa mendatang. Hanya 20% yang tidak pernah mempertimbangkan untuk menggunakannya.
Mayoritas perusahaan mungkin mengandalkan teknologi untuk mengelola proses perekrutan mereka, namun apakah penggunaannya sama di berbagai ukuran bisnis? Tidak mengherankan, penggunaan ATS atau HRIS cukup berbeda jika Anda melihat berbagai ukuran perusahaan. Sebagai contoh, untuk perusahaan dengan kurang dari 100 karyawan, hanya 36% yang menggunakan ATS atau HRIS. Bandingkan dengan perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan, di mana 89% menggunakan ATS atau HRIS. Sistem-sistem ini memberikan nilai paling besar sebagai cara untuk mengatur data kandidat dan karyawan dalam jumlah besar, sehingga masuk akal jika ini merupakan praktik terbaik untuk organisasi yang lebih besar. Namun, bisnis yang lebih kecil jelas mendapatkan nilai lebih dengan mengandalkan teknologi untuk mengurangi beberapa proses perekrutan, terutama dengan perangkat lunak ramah UKM yang dapat berkembang seiring dengan pertumbuhan organisasi.
Di Indonesia, adopsi sistem informasi sumber daya manusia (HRIS) terus meningkat. Pada tahun 2023, diperkirakan bahwa sekitar 55% perusahaan menggunakan HRIS atau ATS (Applicant Tracking System) untuk mengelola proses perekrutan dan manajemen sumber daya manusia lainnya. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam adopsi teknologi HR dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (HashMicro) (Criteria Corp).

Pada tahun 2021 saat pandemi COVID-19 mendorong perusahaan untuk beralih ke solusi digital, meningkatkan adopsi HRIS hingga 35-40%. Kemudian tahun 2022 pemulihan pasca-pandemi membuat perusahaan stabil dan mengadopsi teknologi baru, dengan penggunaan HRIS meningkat menjadi 45-50%. Dan pada tahun 2023 transformasi digital diperkirakan berlanjut, dengan sekitar kurang lebih 55% perusahaan menggunakan HRIS untuk efisiensi dan produktivitas yang lebih baik.
Adopsi HRIS di Indonesia juga bervariasi berdasarkan ukuran perusahaan. Perusahaan besar dengan lebih dari 500 karyawan lebih cenderung menggunakan HRIS dibandingkan perusahaan kecil dengan kurang dari 100 karyawan (Criteria Corp).
Dikutip dari human resource trend 2014
